September 20, 2016

7 Tips Agar Anak dan Ayah Makin Lengket



Sejak awal menikah, saya dan suami sudah LDR alias Long Distance Relationship, entah sejak kapan konsep itu berjalan seperti ini. Saat kami berdua (tepatnya sejak suami melamar saya) menikah, kami seakan tidak membahas perbedaan lokasi tempat tinggal kami, saya di Jogja dan suami dii dii dii dimana mana :D. Seperti sudah sepakat satu sama lain, kami (saya mencoba) nyaman nyaman saja dengan situasi ini, yang penting suami telepon setiap hari, pulang setidaknya 2 kali sebulan, dan sebagainya sebagainya (syaratnya banyak banget, wkwkw). Di awal perpisahan pertama kami sebagai pasangan yang menikah, malah suami saya yang terbawa suasana, dia memeluk saya lamaaa sambil terisak dan mengucapkan nasehat nasehatnya. Saya? Senyum senyum sajaaa…tapi rupanya seiring waktu berjalan, yang paling sering menangis ya saya, si wanita yang (sok) kuat ini rupanya cengeng berat, hihi. 

Kekhawatiran saya saat kami berbeda tempat tinggal mulai muncul saat kehamilan anak pertama. Saat itu saya membaca peran penting seorang ayah di rumah, hingga saya dengar tentang anak beberapa teman (dan temannya teman) yang tidak mau dekat dengan ayahnya (karena posisi ayah di luar kota, dan pulang beberapa minggu atau bulan sekali). Bahkan si anak ini sudah bisa dikatakan tidak kecil lagi, tapi sudah besar kisaran SD. Alhasil sejak dalam kandungan hingga lahir ke dunia, Akta sudah saya bilangi kalau ayah kerja di luar kota. Alhamdulillahnya sejak bayi, Akta sudah dekat dengan ayahnya. Saat ayahnya pulang, ada saja tingkah laku mereka, mulai Akta tidur di pangkuan ayahnya, Akta didongengin si Ayah sampai (ayahnya) tertidur, mandi berdua, jalan jalan berdua, dan hingga sekarang mereka bisa bekerja sama “ngerjain” saya. 

Saya pikir kekhawatiran saya tentang kedekatan ayah dan anak sudah reda, tapi rupanya saat kelahiran Kani, rasa itu muncul lagi. Karena Kani perempuan, sedangkan Akta laki laki, kata orang, anak perempuan akan lebih dekat dengan sang ayah, jadi tenang saja. Tapi pikiran saya berkata lain, gimana kalau nanti Kani pemalu, trus liat wajah ayah dia malu dan malah gelendotan di saya. Tapi buru buru saya tepis pikiran ini, kejadian yang diharapkan harus bermula dari AFIRMASI yang POSITIF. Sebisa mungkin saya bisikan pada Kani, kalau ayah kerja di luar kota, besok datang main lagi sama kita yaa. Doakan afirmasi ini sukses yaa… 

Saya juga berpikiran, yang penting quality time harus dimunculkan saat si ayah berada bersama anak. Jadi kalau ayahnya datang, saya mintalah dia yang mandiin, nyuapin, ngajak main, bacain cerita sebelum tidur, dan sebagainya. Saya juga pernah meminta suami berjalan berdua bersama Akta, misalnya ke taman bermain atau ke mall. Reaksinya? Takut … hehehe, katanya nanti kalo rewel gimana? Kalau ngantuk gimana? Ya saya jawab saja kalau rewel ya ditenangin pake gini gini gini (rumus pribadi emak). Tapi jawaban saya rupanya belum memuaskan, dibales gini sama suami “Iya kalau bunda enak ada nenen. Misalnya nangis tinggal di nenenin aja si Akta. Kalau ayah?”. Hahahaa, bener juga yaah, tapi sekali lagi, itu bukan alasan untuk menolak saran saya (ini saran atau suruhan sih, haha). Sebab, saya berpendapat keluar berdua sama anak itu penting, minimal jalan jalan pagi berdua, menghabiskan waktu sepanjang jalan tanpa ada orang lain, hanya mereka berdua. Bahkan kegiatan ini tetap saya nantikan walaupun Kani lahir, nantinya juga harus ada waktu untuk saya dan Akta keluar berdua saja, begitu juga dengan Kani ^^. 

Kejadian serupa (tapi tak sama) juga terjadi di teman saya (yang kenalnya dari dunia per whatsapp-an), mak Ardiba Rakhmi Sefrienda (www.ardiba.com) yang beberapa waktu lalu baru saja menyelesaikan kuliah S2 nya di UGM. Berhubung mengambil pendidikan S2 di Yogya, mak Diba dan anaknya (1 anak) harus LDR sebentar dengan suaminya ^^. 
Baca tulisan mak Diba tentang LDM yuk ^^ DISINI
Perpisahan dua sejoli ayah dan anak ini rupanya juga tidak seperti kekhawatiran saya di atas, malah si anak mak Diba juga termasuk dekat dengan si ayah ^^. Bahkan kabarnya si anak sudah ada rencana mau jalan jalan ke museum dengan ayahnya saat pulang nanti. Saat tahu hal ini, saya tersenyum, kadang Akta juga gitu, tapi akhir akhir ini lebih ingat ayahnya pulang hari Sabtu, karena hari Sabtu hari es krim, haha.
 
header template blog mak Diba. Bagus yaak ^^
Berikut beberapa tips untuk para ayah yang LDR dengan anaknya ^^ :
1. Usahakan tetap menelepon setiap hari walaupun anda sangat sibuk. Bahkan, apabila anak masih bayi, tetaplah menelepon untuk mendengar tangisan dan ajak mereka ngobrol.
2. Saat anda ada di rumah, usahakan untuk tidak terlalu fokus memegang handphone maupun tab, agar perhatian anda bisa fokus kepada anak.
3. Lakukan kegiatan bersama, seperti jalan pagi, bersepeda, bermain di rumah, dsb. 
Baca cerita seru AIS (anak Mak Diba) dengan ayahnya DISINI
4. Ajak anak untuk bercanda. Jadikan diri anda sebagai ayah yang menarik, yang lucu, dan gak jaim :D. 
Baca kegiatan seru Akta dengan ayah di Gunkid KLIK DISINI
5. Jauh dari anak, bukan berarti saat bertemu anda harus memanjakannya, buat beberapa aturan yang disepakati agar anak tidak kelewat batas. Ayah yang tegas tapi menyenangkan? BISA BANGET
6. Apabila anak sudah sekolah, usahakan beberapa kali ikut kegiatan anak di luar sekolah. Misalnya ada outing kelas, outbond¸dsb. Akta dulu pernah ada acara cooking class di luar sekolah, kebetulan saya tidak bisa ikut, dan akhirnya si ayah saya minta pulang. Sampai sekarang masih ada di ingatan Akta lho, kalau ayahnya yang mengantar dia ke kelas memasak ^^ BERDUA SAJA.
7. Apabila ada hari kecepit atau waktu luang, ajak anak untuk travelling. Percayalah, hal ini memberikan efek untuk saya (ditambah dengan melakukan beberapa tips sebelumnya). Karena dengan travelling, komunikasi ayah dan anak bisa semakin intens. Tidak harus mewah, tidak harus jauh, misalnya berkemah ^^. 
Baca kisah wisata Mak Diba bersama anak dan suaminya di Embung Nglageran DISINI
Baca travelling kami bertiga sebelum Akta kena harga 1 tiket pesawat :P KLIK DISINI

Selamat "berlengket lengket" sama anak ya ayah ayah HEBAT ! ^^ 

10 comments:

  1. Long distance nggak masalah, yg penting ayahnya bisa menjaga kedekatan dengan anak dan keluarga..

    ReplyDelete
  2. Long distance nggak masalah, yg penting ayahnya bisa menjaga kedekatan dengan anak dan keluarga..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mba, kualitas pertemuan juga penting ^^

      Delete
  3. Yes, quality time ayah n anak penting banget meskipun jarang ketemu..semangat ya mak Rachma.. :)

    ReplyDelete
  4. meskipun jauh, namun tetap terasa dekat ya

    ReplyDelete
  5. Haaaa mak rachma juga geng LDM tho, baru taauuu *peluk syahabat sesama LDM*

    Kalo suami dateng aku jg suka ngasih dia tugas2 buat mandiin, main, dll sama anak. Biar makin deket skaligus modus biar aku bisa sedikit leha2 #eh ;p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe,, iya maakk :D
      eh beneeerr kadang di saat suami datang kita malah pengen istirahat beberapa jam buat ngurus anak, hihi

      Delete
  6. Sepakat mbak, jangan sampai karena kita anggep sepele hal ini eh nanti malah pas anaknya udah gede gak ada atau jarang sekali buat kontak kontakan dengan ayah atau orang tuanya.

    Terima kasih juga tips-tipsnya Mbak. :D

    ReplyDelete

Biar aku bisa jalan jalan ke blogmu, silahkan tinggalkan komen di postingan ini yah