May 29, 2022

Cerita AktaKani : Konsul TB ke DSA Tumbuh Kembang di Yogyakarta

 Assalamualaikum

“Ma, tadi aku dibilang temen temen kalo Aku pendek, kecil, hitam”

Ini kira kira sudah laporan kesekian kalinya. Awalnya saya ga terlalu ambil pusing, tapi lama kelamaan terganggu juga. Kenapa ga ambil pusing? Yang pertama karena memang Akta belum terlalu tinggi secara badan, selain itu saya tekankan sama Akta, kalau teman yang baik, dia ga akan melihat dari bentuk tubuh kamu, kamu cari aja teman yang lain.

Selang beberapa hari dia bilang “Aku di sekolah ga ada temen main, temen mainku cuman si X aja. Karena cuman dia yang ga pernah olokin aku”

Nah… mulai bingung deh owe, wkwkwk

Selang beberapa hari dapat cerita lagi, Akta dibilang temen di perumahan kalau dia ga berguna pas diajak main bola, trus Akta emosi. Pas Akta emosi juga gitu, ucapannya ya Allah… rasanya pengen disumpel kain aja mulutnya biar ga ngomong jelek jelek, tapi Alhamdulillah ngomongnya ya di depan bunda, bukan di depan temennya. Padahal ya santai aja gitu lo kak kalau diece... balas pakai lawakan trus ajak main lagi.

Selang beberapa hari kemudian ada aduan lagi dari Akta, bahwa dia paling pendek diantara teman sekelasnya, bahkan teman sekelasnya yang dulu kelas 1 paling kecil, sekarang mulai bergerak mengalahkan tinggi Akta. Lama lama bunda ngerasa mulai ga beres, apakah anakku mengalami krisis PD dengan bentuk tubuhnya? Karena merasa ga PD, jadi ngefek ke kesehariannya, jadi merembet kemana mana, ngerasa semua temen ngejauhin dia, ngerasa semua orang lihat dia tuh kecil, lemah, dsb. Jadinya kelebihan yang dia miliki langsung sirna gegara dia kurang tinggi?

Malamnya setelah anak anak tidur, iseng lah masukin tinggi badan dan TTL ke salah satu web di google untuk melihat kalau di KIA tuh ada di titik mana sih? Dan setelah itu muncul hasil mepet ke garis hitam, hiks, bunda langsung gemeteran, langsung screenshot dan kirim ke suami via WA, dan besoknya langsung bikin janji ke dokter tumbuh kembang.

Sebenarnya saya dan suami sudah concern di tinggi anak anak sebelum tahun 2022, sejak Akta umur 7 tahun, walaupun temennya masih banyak yang seukuran dia, saya juga sudah konsul ke salah satu dokter tumbuh kembang di Jogja. Awal konsul tahun 2019 dan dilanjut di tahun 2021, dari sana dokter menyatakan memang batas bawah tapi masih normal. Masih tenang lah yaa, karena saya dan suami bukan termasuk orang dengan tubuh yang tingginya besar. Jadi kami terima saja kalau anak anak ga terlalu tinggi, tapi tetap kami pantau dengan usaha semaksimal mungkin dari kami, intine lek ono cara iso gawe dukur, yo ta kerjake.

Senin malam, kami pergi ke dokter tumbuh kembang yang lain di Jogja, antriannya cukup panjang, dan bunda sudah bĂȘte banget sama pelayanan rumah sakitnya. Akta yang sudah didaftarkan seminggu sebelumnya kok ya bisaa namanya ga terdaftar, ya Allah… suami sudah pasrah liat muka bojone kesel, wkwkwkw. Sepanjang menunggu mung istighfar dan mengucap Robbi Habli Minassholihin sambil lihat wajahnya anak anak, setidaknya bunda paham, dalam posisi itu mau semarah apapun ga ada lagi yang bisa dilakukan selain nerimo dan (yang pasti sudah dilakukan) komplain ke mbak mbak CS nya, wkwkwk.

Alhamdulillah akhirnya nama Cahayu dipanggil, akhirnya kami masuk dan bunda sampaikan, mau konsul 2 anak an Kanzie dan Cahayu, dokternya berkenan dan happy nya adalah dokternya super humble, ramah dan tegas. Walaupun antrian beliau banyak, tapi beliau tetap mau care dengerin ceritaku, jadi berasa gak sia sia nunggu lama. Dari obrolan tersebut, anak anak diukur lagi TB dan BB, kemudian saya dan suami diukur lagi TB nya. Hasilnya di plot di grafik (kurva pertumbuhan WHO), dan diperoleh data bahwa untuk anak anak termasuk normal, kurvanya naik (saya sampaikan data tahun 2019 dan 2021 yang sudah dikonsulkan ke dokter sebelumnya). Selain itu, karena kami berdua bukan termasuk yang tinggi banget, jadi anak anak dengan ukuran tinggi saat ini sudah termasuk normal. Walau memang, untuk Akta masih bisa naik lagi, tapi dokter menginfokan sepertinya Akta belum melewati masa growth spurt, jadi belum yang melesat tingginya. Dan dicek juga untuk kematangan seksualnya juga belum matang (belum ada jakun, rambut di ketiak, maupun rambut di kemaluan). Kani pun begitu, Alhamdulillah normal semua.

Yaa gimana yaa, menerima kondisi anak tidak terlalu tinggi apabila ortunya sendiri ga tinggi, itu hal yang wajar dan perlu loh. Tapi apabila kita bisa dan mampu untuk mengajak anak konsul ke dokter, membiarkan dia tahu jawaban dari dokter, apakah dia masih bisa tinggi, kenapa dia belum tinggi, bagaimana caranya merangsang pertumbuhan tinggi, insya Allah bikin dia semangat. Selain itu biar dia tau, ini loo ayah bunda tuh juga sudah care sama kamu dari umur 7 tahun sudah ta konsul in ke dokter, hehe… jadi kamu jangan patah semangat atau kecil hati bila ada yang ejek kamu pendek, item, kecil ^^

Btw, ternyata yang garis hitam pas di website, hasilnya ga terlalu akurat, karena kita seharusnya juga mengukur TB kedua orang tua, dan diplot di kurva pertumbuhan, jadi jelas anak anak masih bisa tumbuh maksimal sampai angka sekian dan sekian.

Begitu bund

Menulis ini di blog lebih melegakan, menjauhkan dari khalayak lingkungan bunda yang lebih banyak bersocmed dengan video dan tulisan singkat, hehe. Ga terlalu banyak yang memberikan saran, bersimpati, atau apa yaa, hehe.

 ❤❤❤❤❤❤

Love you AktaKani 

Oh iya, untuk dokter yang kami rujuk adalah dokter Endy yang praktek di Apotek Celeban (2019-sekarang)  dan dokter Mei Neni yang praktek di Hermina Yogyakarta (th 2022)

0 komentar:

Post a Comment

Biar aku bisa jalan jalan ke blogmu, silahkan tinggalkan komen di postingan ini yah